04.09

Kentang Hitam pada Tanah Mineral Masam Bengkulu

TAMPILAN KENTANG HITAM (Coleus tuberosum) PADA
TANAH MINERAL MASAM BENGKULU
Oleh
M. Faiz Barchia, S. Nur Muin, Destia Gita, Natalia Silalahi,
Robiah dan Asrul Sani
Abstrak
Tampilan pertumbuhan Kentang Hitam (Coleus tuberosus) pada dataran rendah Bengkulu sangat baik. Tampi lan i ni merupakan hasi l uji coba pada dataran rendah di keti nggi an 6 m dpl pada lahan lahan percobaan Fakultas Pertanian kampus UniversitasBengkulu. Karakteristik iklim pada lahan percobaan kentang hitam ini yaitu bercurah hujan rata-rata sebesar 265 mm bulan-1, suhu rata-rata harian 26.5 0C dengan suhu rata-rata maksimum 32.9 0C dan suhu rata-rata minimum 22.2 0C, dan dengan kelembaban nisbi 84%.
Lahan percobaan yang merupakan tanah mineral masam dengan jenis tanah Ultisol memiliki karakteristik kimia marjinal dengan pH 4.80, C-organik termasuk sedang dengan kandungan 2.15%, N-total 0.14%, P-tersedia 9.20 ppm, K-dd, Ca-dd, Mg-dd, dan Na-dd berturut-turut 6.18; 2.64; 0.42; dan 0.56 me 100g-1 (me 100g-1) dan Al-dd 1.36 me 100g-1. Fraksi penyusun tanah terdiri dari pasir dengan kandungan 21 .60%, debu 47.75% dan fraksi liat 30.65% dan kelas tekstur tanah termasuk lempung berliat.
Tampilan tanaman yang ditumbuhkan pada tanah mineral masam antara lain rata-rata panjang tanaman umur panen 3 bulan yaitu 110 cm dengan tanaman terpanjang 179 cm, dan jumlah cabang rata-rata sebanyak 26 buah dan jumlah cabang tertinggi sebanyak 44 cabang. Hasil dari petakan seluas 3 m2 didapat berat umbi kentang hitam 3.2 – 7.8 g, dengan umbi terbesar berukuran panjang umbi 7.0 cm dan diameter 5.0 cm, dengan berat buah 50 g per umbi.
Keywords : Kentang Hitam (Coleus tuberosum), Tanah Mineral Masam, Dataran Rendah.
PENDAHULUAN
Kentang Hitam (Solenostemon rotundifolius (Poi r.) J. K. Morton syn.Plectranthus (syn. Coleus) tuberosus (Blume) Benth. syn. C. edulis Blume syn. C. rotundifolius (Poiret) A. Chev. & E. Perrot syn. C. parviflorus Benth.;
Kentang Hitam merupakan tanaman pangan yang potensial sebagai sumber pangan alternatif, namun pembudidayaan di masyarakat saat ini semakin langka. Tanaman ini merupakan lumbung pangan karena biasanya ditanam di pekarangan dan dipanen bila diperlukan. Kentang hitam merupakan tanaman pangan yang mempunyai kandungan
karbohidrat yang ti nggi, khususnya pati.
Kentanghitam disebut juga tanaman obat-obatan karena berkhasiat untuk penyembuhan penyakit maag. Daun Kentang Hitam menyerupai daun nilam dengan bagian pinggir daun bergerigi, dan bunga berbentuk memanjang ke atas bewarna unggu. Kerabat tanaman ini merupakan tanaman hias populer (koleus).
Tabel 1. Kandungan gizi kentang hitam (Persatuan Ahli Gizi Indonesia, 2009)

Tanaman kentang hitam ini dapat tumbuh pada ketinggian 40-1.300 m dpl dan menyukai tanah yang gembur serta berdrainase baik (Suhardi, 2002). Kentang Hitam tumbuh toleran terhadap suhu panas, dan dapat berproduksi dengan baik pada daerah dengan curah hujan 2500 - 3300 mm per tahun. Tanaman kentang hitam tumbuh baik pada tanah ber-pH 4,9 – 5,7.
Kentang hitam relatif resisten terhadap penyakit namun sangat peka terhadap nematoda. Perawatan pada budidaya kentang hitam relatif mudah dan murah. Kentang hitam dapat dipanen dalam waktu tiga bulan (Wikipedia, 2008) dengan hasil berkisar 7 – 20 ton ha-1. Perbanyakan tanaman dapat dilakukan dengan stek batang sepanjang 10-15 cm atau umbi. Lahan untuk penanaman kentang hitam memerl ukan penambahan pupuk organik berserat yang terkompos dengan baik. Masa panen dapat dilakukan 150-200 hari setelah tanam dan pemupukan NPK (16-8-8) lebih kurang 125 kg ha-1. (Nkansah, 2004). Permasalahan yang ada dalam pengembangan Kentang Hitam adalah masih kurangnya informasi tentang kondisi ekologis yang optimum untuk pertumbuhannya dan teknik budidaya yang tepat.
METODOLOGI
Perbanyakan bibit Kentang Hitam dilakukan dengan menggunakan stek batang
berukuran 10 cm yang dibibitkan pada polibag yang berisi campuran tanah mineral dan kompos. Tanaman muda berumur 2 minggu dipindahkan ke lahan tanam yang telah disiapkan terlebih dahulu. Pada lahan tersebut disiapkan tiga blok yang dipisahkan dengan jarak antar blok 1 m dan jarak antar petak 0,5 m. Tiap blok terdiri atas 16 petak, setiap petak berukuran 2,0 m x 1,5 m dan satu petak berisi 12 tanaman. Sebagai pupuk dasar pupuk N dengan dosis 30 kg ha-1 yang diberikan 2 kali yaitu 1/3 saat tanam dan 2/3 pada saat empat minggu setelah tanam, 50 kg ha-1 P2O5 dan 60 kg ha-1 K2O. Setiap lobang tanam diberi pupuk kompos sampah organik kota sebanyak 0.5 kg dengan kandungan N, P, K, Ca, dan Mg berturut-turut 1.19, 0.63, 0.10, 0.10, dan 0.12 g kg-1. Panen dilakukan setelah umur tanaman mencapai 3 bulan setelah tanam.
PEMBAHASAN
Adaptasi Kentang Hitam yang berasal dari dataran rendah pantai Timur Sumatera ke dataran pantai Barat Sumatera cukup baik. Hal ini terlihat dari pertumbuhan dan hasil dari adaptasi di dataran rendah pantai Barat Bengkulu, yaitu di lahan percobaan Fakultas Pertanian kampus Universitas Bengkulu. Lahan percobaan terletak pada wilayah beriklim lembab dengan zona agroklimat A2 menurut Oldeman. Curah
hujan rata-rata bulanan sebesar 265 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 19 hari bulan-1. Suhu rata-rata harian berkisar antara 26,1 – 27,1 0C dengan rata-rata 26,5 0C, sementara Suhu udara rata-rata maksimum berkisar antara 32° - 34°C sedangkan suhu minimum berkisar antara 22°-23°C. kelembaban udara rata-rata berkisar antara 80 - 88%. 
Kentang Hitam tumbuh baik pada tanah mineral masam marjinal. Karakteristik kimia pada media pertanaman Kentang Hitam adalah bersifat masam dengan pH 4.80, dengan kandungan N-total termasuk rendah yaitu 0.14%, P-tersedia rendah dengan kandungan 9.20 ppm, dan Al-dd sebesar 1.36 me 100g-1. Ketersediaan kation-kation basa termasuk sedang dengan
kandungan Ca, Mg, K, dan Na berturut-turut 6.18; 2.64; 0.42; dan 0.56 me 100g¬1 . Bahan organik termasuk sedang dengan kandungan C-organik sebesar 2.15%. Jenis tanah diklasifikasikan sebagai Tipik Haplohumult. Susunan fraksi tanah dengan kandungan pasir sebesar 21.60%, debu sebesar 47.75%, dan liat sebesar 30.65% dan termasuk kelas tekstur lempung berliat. Pengolahan tanah sebelum penanaman memberikan ruang tumbuh yang baik bagi pertumbuhan tanaman dan perkembangan umbi Kentang Hitam.
Tampilan tanaman Kentang Hitam yang ditumbuhkan pada tanah mineral masam Tipik Haplohumult sangat baik antara lain ditunjukkan oleh rata-rata panjang tanaman umur panen 3 bulan yaitu 110 cm dengan tanaman terpanjang 179 cm, dan jumlah cabang rata-rata sebanyak 26 buah dan jumlah cabang tertinggi sebanyak 44 cabang. Rata-rata hasil dari petakan seluas 3 m2 didapat berat umbi kentang hitam 3.2 – 7.8 g, dengan umbi terbesar berukuran panj ang umbi 7.0 cm dan diameter 5.0 cm, dengan berat buah 50 g per umbi. Kemampuan produksi Kentang Hitam > 10 ton ha-1 dengan waktu panen 3 bulan menunjukkan bahwa Kentang Hitam cukup potensial untuk mendiversifikasi sumber karbohidrat sebagai bahan pangan masyarakat yang bersifat eksotis.





KESIMPULAN
  1. Kentang H itam sangat adaptif ditumbuhkan pada dataran rendah pantai Barat Bengkul u yang beriklim panas dengan curah hujan rata-rata bulanan 265 mm dan hari hujan 19 hari bulan-1, suhu rata-rata harian 26.5 0C, suhu rata-rata maksimum 32.90C dan suhu rata-rata minimum 22.2 0C, dan kelembaban nisbi rata-rata 84%.
  2. Kentang Hitam tumbuh baik pada tanah mineral masam marjinal dengan pH 4.8 dan Al¬dd 1.36 me 100g-1.
  3. Pertumbuhan Kentang Hitam pada umur panen 3 bulan memberikan hasil > 10 ton Ha-1 dan kentang hitam terbesar dapat berukuran panj ang umbi 4.8 cm dengan diameter umbi 3.2 cm, dan berat buah 136.7 g per lima umbi.

DAFTAR PUSTAKA

Nkansah, G. O. 2004. Solenostemon rotundifolius (Poir.) J. K. Morton. PROTA 2 : Vegetables! Legumes. Wageni ngen, Netherlands
Suhardi. 2002. Hutan dan Kebun Sebagai Sumber Pangan Nasional. Kanisius. Yogyakarta. Wi ki pedi a. 2008. Kentang H itam. http:!!.wi ki pedi a.org!wi ki!kentanghitam. 10 Oktober 2008.